Masyarakat Hindu Jawa Kabupaten Pringsewu Adakan Upacara Entas – entas

TERASPRINGSEWU. COM. Masyarakat Hindu Jawa memiliki tradisi Ngaben sebagaimana yang dilakukan oleh Masyarakat Hindu Bali. Dalam Upacara Ngaben Masyarakat Hindu Jawa ini disebut Entas-Entas.

Di Kabupaten Pringsewu warga masyarakat Hindu jawa mengadakan Upacara entas-entas di taman wisata Way Sekampung Pekon Lugusari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Propinsi Lampung, pada Rabu Kliwon (19/1).

Dalam upacara ini dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Pringsewu, Anton Subagiyo, Kepala Pekon Lugu Sari dan seluruh keluarga yang mau di entas-entas. Pada upacara suci ini, tidak ada kremasi jenazah seperti halnya Ngaben di Bali, Prosesi Entas-Entas dilakukan dengan membakar sarana sesaji yang bertujuan untuk menyempurnakan arwah agar menjadi suci bisa sangkan paraning dumadi atau Sang Pencipta, karena Upacara entas-entas ini dilakukan oleh keluarga yang mampu, di hari keseribu bagi arwah yang sudah meninggal dunia.

Upacara Entas-Entas tidak hanya berlaku untuk menyempurnakan satu arwah saja tetapi juga bisa untuk menyempurnakan arwah secara massal. Ini pula yang dilakukakan oleh Masyarakat Hindu di Pekon Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu.

Pelaksanaa upacara Entas-Entas yang dipimpin oleh Ida Pandita Dang Guru Suweca Dharma dari Pedepokan Banyu Bening Bandar Jaya Lampung Tengah.
Dalam sastra Jawa Kuno suksma atau roh orang yang meninggal tidak langsung menuju kepada Sang Pencipta tetapi suksma tersebut mampir dulu atau singgah di alam yang disebut Tegal penangsaran. Di alam Tegal Penangsaran ini suksma sangat menderita oleh karena itu dalam agama Hindu ada aturan untuk melaksanakan upacara Entas, yakni ngentas suksma atau roh untuk diangkat ke alam yang lebih tinggi derajatnya.
Makna dari Pengentas-entas itu sendiri adalah nyuwargakan atau menyempurnakan dari alam yang sengsara dan menderita ke alam yang lebih bahagia, Demikian dijelaskan oleh Dang Guru Suweca Dharma.

Baca Juga:   Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XI.VI DIM 0424 Akan Kunjungi Ranting 07 Pringsewu

Pelaksanaan upacara Entas-Entas diawali dengan penyiapan banten atau sesaji yang jumlahnya cukup banyak. Sesaji tersebut antara lain berupa pisang ayu, aneka buah-buahan, umbi-umbian, kelapa, bunga, tumpeng suci, tumpeng robyong, tumpeng panggang ayam, tumpeng pengentas dan sebagainya.
Prosesi Entas-Entas dimulai dengan mengambil tanah pusara orang yang akan dientaskan arwahnya. Prosesi ini disebut Nyapuh. Pengambilan tanah pusara dilakukan oleh pemangku. Prosesi ini pun memerlukan sarana sesaji dan wadah untuk sarira atau badan yang meninggal. Dalam keyakinan agama Hindu badan atau jasad orang yang meninggal masih ada kehidupan. Maka dari itu badan tersebut diambil untuk diwargakan atau disempurnakan. Sehingga yang diswargakan bukan hanya suksma saja tetapi badan atau jasad juga harus diswargakan karena badan tersebut telah berjasa sebagai kendaraan bagi suksma ketika masih hidup.

Setelah prosesi Nyapuh kemudian dilakukan prosesi memanah sad ripu yang disimbolkan dengan bentuk naga. Satu arwah dilambangkang dengan satu naga. Prosesi memanah dilakukan oleh Pandita dengan kekuatan Dewa Nawa Sanga.
Sad ripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia. Musuh ini adalah nafsu yang terdiri dari kama, lobha, krodha, mada, moha dan matsarya.

Baca Juga:   PMI Provinsi Lampung Adakan Gerakan SIGER Di Kabupaten Pringsewu

Menurut Dang Guru Suweca Dharma Sad Ripu adalah hukum alam yang diciptakan oleh Tuhan sehingga tidak perlu dibenci atau dibunuh karena sandangan manusia. Tanpa sad ripu manusia tidak akan sempurna. Yang terpenting adalah manusia harus mampu mengendalikan sad ripu agar tidak terbelenggu olehnya. Sadripu ini setelah mati tidak ikut ke jasad tapi ikut ke suksma. Oleh karena itu sad ripu yang melekat pada suksma ini harus diperhatikan dulu supaya suksma sejati atau roh suci dan bisa menyatu dengan Tuhan.

Setelah prosesi memanah sad ripu kemudian dilanjutkan dengan prosesi Entas-Entas atau Ngaben. Pada prosesi ini seluruh anggota keluarga melakukan kirab dengan membawa sarana sesaji dan diiringi gending-gending Jawa dan puja puji keagamaan selama dalam perjalanan.
Pada prosesi Entas-Entas ini jasad yang disimbolkan dengan sarana sesaji dan tanah pusara tadi kemudian dibakar untuk disempurnakan. Setelah dibakar dari sesaji tersebut diambil dan diletakkan dalam wadah untuk selanjutnya dilarung ke laut.

Dengan demikian, arwah orang yang meninggal sudah sempurna menjadi roh suci atau atma sehingga bisa kembali dan manunggal kepada Sang Pencipta atau disebut moksa.
Upacara Entas-Entas adalah wujud menyatu dengan arwah leluhur. Upacara ini untuk mengangkat arwah orang yang telah meninggal ke alam yang lebih tinggi agar mendapatkan kebahagiaan di sana sedangkan keluarga yang ditinggalkan agar menjamin keselamatan dan keinginannya yang terkabul. Berikut mantra Pengentas-Entas yang dibacakan oleh Dang Guru Suweca Dharma: “Ong Pukulun mangulih-ulih sang agawe ayu, sang pinilepas mwang sang kinarekaken. Sang pinilepas mugia swargatu, moksantu, sunyantu. Sang kinarekaken mugia rahayu luput dari pancabaya ketekan ingkang sinedya” .

Baca Juga:   Kepengurusan DPC BNM RI Pringsewu Dilantik

Sementara itu, Ketua panitia Upacara Entas-entas, Triyanto, mengatakan bahwa upacara pengentas entas diikuti oleh sejumlah keluarga 33 keluarga dengan laki laki 30 perempuan 26 Sawe 56 ,glunga ( bayi yang belum tumbuh gigi) 45 di Puput oleh Romo pendeta Dang Guru Swice Dharma dari Bandar jaya ,di bantu oleh para jurugede dan para Pinandita kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu,

Anggota DPRD Kabupaten Pringsewu, Anton Subagiyo,SH,mengatakan, Apresiasi kepada umat Hindu jawa yang melaksanakan upacara keagamaan ini dengan tertib dan mematuhi Protokol Kesehatan, inilah sebuah bentuk Kebhinekaan Tunggal Ika, dimana di Kabupaten Pringsewu terdiri dari berbagai agama, dan di berikan kebebasan untuk melaksanakan ibadahnya masing-masing sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada, ujar Anton Subagiyo. (Andoyo).